Thursday, January 1, 2015

Posted by dibalikkacamata |
hhuuuwwaaaaaaaaa
menjerit tapi tak terdengar
menangis tapi tak berair mata
memukul tanpa tangan
menendang tanpa kaki

hanya rasa sakit yang terasa
walaupun tanpa tersentuh
pening
pusing
berputar putar tanpa arah

ingin mengeluarkan
tapi tak bisa
ingin memuntahkan
tapi tak mampu

Posted by dibalikkacamata |
waktu terus berputar
otakku terus berpikir
tapakku pun terus melangkah
menembus dinding di depan
bertekad maju ke depan

dinding tertembus satu demi satu
mata tetap terpandang ke depan
memandang sinis
menatap semangat
pikiran fokus ke depan
diiringi semangat dari semua sisi
terobosan terobosan dilalui
satu kali meloncat melewati

mata pun mulai kabur
kaki mulai lelah
otak mulai pening
namun semngat tetap melaju

sampai di akhir
dinding hitam raksasa menghadang
berlapis baja baja tebal dan beton
terus mendorong
menghancurkan tanpa henti
segala cara dilakukan

namun tak tertembus
tetatp kokoh berdiri

dan...
perjalanan mulai berhenti

berkobar dalam hati untuk mengulangi
suatu saat akan hancur lebur berpuing

Friday, May 23, 2014

Posted by dibalikkacamata |
Petang ini mulai menyurup
dilambai senja menghilang
bulan berkata riang pada malam
menari bintang bersiul merdu

singgasana tak lepas dari kaki
terpaku dalam peraduan yang sama
bulan hanya berkata riang
dan bintang hanya menari merdu
tak pula datang menghampiri diri

tertanam sudah bunga itu
apakah akan terpetik ?
ataukah hanya menyiraminya saja ?
atau juga akan layu begitu saja ?
tenggelam dalam lautan malam itu

melainkan...
bunga itu akan tetap di peraduannya
meski terpojok di sudut jendela sana

hingga tengah malam
bulan masih riang
bintang masih menari
dan bunga masih tertanam

Saturday, May 17, 2014

Posted by dibalikkacamata |
yaaa... aku ego
aku ego untuk memusuhimu
aku ego untuk membunuhmu
kau jamah keperawan negriku
kau rampas urat nadi bangsaku

yaaa... aku memang bajingan
bajingan yang akan memuncratkan darahmu
bajingan yang akan bermain main dengan kepalamu
hanya politik tai kucing yang kamu berikan
hanya muntahan moral yang slalu kamu segankan

yaaa... aku suram, aku kelam
aku kaum minor yang terjerumus kemaluan
malu akan dirimu
malu akan tingkahmu yang bejat itu
tanpa permisi merauk untung untuk dirimu
hahhahah

Sunday, February 2, 2014

Posted by dibalikkacamata |
kamis itu....
terngiang slalu dlm bayang
diatas dua roda meluncur pasti
menuju suatu tempat sederhana
memadukan obrolan yang biasa
tak luput orang lain melirik
memandang iri ingin meniru

detik demi detik...
terlewati dengan indah
canda tawa selalu mewangi
hiasi rangkaian kisah padu
melumurinya dengan olesan mentari

waktu menunjukkan pukul 17.00
hujan turun tanpa permisi
membasahi raga ini
roda dua terus melaju
melawan deras hujan
melewati jalan licin

saat itu..
terhentilah
di sebuah gubuk indah
sejenak merebahkan lelah
dengan minuman hangat
dan suasana manis
berteman lilin kecil

tergeletak tungkai
menjulur lurus
merenggangkan otot-otot kaku
dan bersenda gurau bersama
melodi indah pun mengiringi
dengan irama irama syahdu
membuat seru gelak tawa

kamis itu...
malam mulai malam
tertuju pusat kota
berdiam diri
beristirahat sejenak
angin pun memeluk hangat diri
tercium aroma surgawi
memekikan rangkaian kata
melewati hati
namun itu teranggap semu

yaa... kamis itu
memori yang tak terganti
kan terbayang selalu
meski teranggap semu




Thursday, October 31, 2013

Posted by dibalikkacamata |
1 2 3 langkah, melangkah bebarengan
menyatukan hati yang terbakar emosi
yang ingin meneriakkan bait bait patriotik
menguras otot membuka cakrawala baru
Disana terkumpul sekumpulan binatang liar
yang gila akan semangat juang
menancapkan hasta ke langit
berikrar dengan nada indah

aku, dia dan mereka
tak ada lah beda
menginjak bumi
tertembus pelor
tertancap parang
hahah…
siapa lah bilang beda ?
hanya orang tolol tak berotak yang tak tahu akan elegi ini
yang kan menistakan darah segar yang tlah tercecer
yang kan khianati panji panji suci yang tlah terucap
petak-petak tanah ini lagi berpihak kesana kemari
meladeni kuasa nafsu yang tak hanya birahi
menodai harga diri suci bunda pertiwi
mencobak cabik hati tulus sang Zamrud yang tak hijau kini
ari dikuliti paksa, diwarna satu warna
warna sang dewa sang propaganda
satu dua tiga langkah terhenti
tersesat buta arah dalam satu dua tiga elegi ini
Serbuan-serbuan kosakata dari bahasa adikuasa
Makin mencabik-cabik bahasaku
Makin kacau balau bahasaku
Jangan sampailah bahasaku hilang....
Dimana aku? Dimana kamu? Dan dimana mereka?
Aku yang sedari dulu menyejukkan hati bunda
Namun kau menyakitinya
Dan mereka menyiksa begitu saja
Sadarkah ?
bunda kini sakit, tersakiti karena anaknya sendiri
bak dayang sumbi
Terombang ambing oleh sumpah serapah anknya
Mengedepankan nafsu, membunuh hati nurani
Kembalilah anak kesayangan bunda,
Bunda rindu sumpahmu dulu

Wednesday, March 27, 2013

Posted by dibalikkacamata |
dan...
di balik layar
aku melihatmu

bibir merah merona
senyum menawan
gelak tawa merdu

bulan iri
karna indahmu
bintang kesall
karna gemilaumu

dan...
di balik layar
aku terdiam
aku tersipu

dan...
di balik layar
aku mengagumimu
aku menyayangimu

dan...
di balik layar
aku tak ingin kau tahu