Thursday, October 31, 2013

Posted by dibalikkacamata |
1 2 3 langkah, melangkah bebarengan
menyatukan hati yang terbakar emosi
yang ingin meneriakkan bait bait patriotik
menguras otot membuka cakrawala baru
Disana terkumpul sekumpulan binatang liar
yang gila akan semangat juang
menancapkan hasta ke langit
berikrar dengan nada indah

aku, dia dan mereka
tak ada lah beda
menginjak bumi
tertembus pelor
tertancap parang
hahah…
siapa lah bilang beda ?
hanya orang tolol tak berotak yang tak tahu akan elegi ini
yang kan menistakan darah segar yang tlah tercecer
yang kan khianati panji panji suci yang tlah terucap
petak-petak tanah ini lagi berpihak kesana kemari
meladeni kuasa nafsu yang tak hanya birahi
menodai harga diri suci bunda pertiwi
mencobak cabik hati tulus sang Zamrud yang tak hijau kini
ari dikuliti paksa, diwarna satu warna
warna sang dewa sang propaganda
satu dua tiga langkah terhenti
tersesat buta arah dalam satu dua tiga elegi ini
Serbuan-serbuan kosakata dari bahasa adikuasa
Makin mencabik-cabik bahasaku
Makin kacau balau bahasaku
Jangan sampailah bahasaku hilang....
Dimana aku? Dimana kamu? Dan dimana mereka?
Aku yang sedari dulu menyejukkan hati bunda
Namun kau menyakitinya
Dan mereka menyiksa begitu saja
Sadarkah ?
bunda kini sakit, tersakiti karena anaknya sendiri
bak dayang sumbi
Terombang ambing oleh sumpah serapah anknya
Mengedepankan nafsu, membunuh hati nurani
Kembalilah anak kesayangan bunda,
Bunda rindu sumpahmu dulu

Wednesday, March 27, 2013

Posted by dibalikkacamata |
dan...
di balik layar
aku melihatmu

bibir merah merona
senyum menawan
gelak tawa merdu

bulan iri
karna indahmu
bintang kesall
karna gemilaumu

dan...
di balik layar
aku terdiam
aku tersipu

dan...
di balik layar
aku mengagumimu
aku menyayangimu

dan...
di balik layar
aku tak ingin kau tahu

Saturday, March 9, 2013

Posted by dibalikkacamata |
Bagai pelangi berwarna warni
Mengindahkan mata yang berseri
Memberikan kebahagiaan
Kepada setiap insan

Cerah mentari tak mampu menyaingi
Gelombang gelap tak mau mendekati
Bak simponi merdukan hari
Bernada suci lambaikan hati

Semua terangkum padamu
Mahligai cinta yang merdu
Membuat parasmu makin lucu
Tak pernah tersendu

Orang sucilah  yang kan mendapatkanmu
Yang kan jadi imam keluarga yang slalu bertawadhu
Menjagamu setiap waktu
Hingga ajal menjemputmu
Posted by dibalikkacamata |



Terengkuh aku pada tepi buana
Terhanyut oleh gemercik air
Embun, iba menatap rancunya diri
Seolah denyut tak lagi bergeming

Kuteteskan sendu pilu karenamu
Saat kau anggapku tiada
Hanya merintih yang aku bisa
Karena ku tak punya daya

Hatiku berdalih menembus asa
Menghadapi kenyataan yang ada
Membuang semua rasa yang dulu ada
Membakar kenangan kita berdua

Namun itu hanya sia-sia
Tak tahu mengapa
Walau ku bersamanya kini
Namun namamu masih di hati
LUVIA

Sunday, February 24, 2013

Posted by dibalikkacamata |
karena tiada yg menyangka
telah tertetes si merah
berkelana dengan derasnya
akankah tubuh kan tertompah
ataukah kan lemas tak berdaya

semua kan menjadi rahasia Allah
terserahkan semua padaNya
raga ini milikNya
jiwa ini milikNya
pasti suatu saat kembali padaNya

Friday, February 8, 2013

Posted by dibalikkacamata |


sejenak aku terdiam
menatap ciptaan-Mu
indah bersinar
melambai lambai
terpental hati 
melihat dengan damai 

selangkah mendekat
tesipuh malu aku
memerah wajahku
berdetak tak tentu
menderas peluhku
bergetar jiwaku 

sungguh
indahnya ciptaan-Mu
Posted by dibalikkacamata |


kitalah pemuda merdeka
kitalah pemuda bangsa
nasib bangsa di pundak kita
pilar bangsa d tangan kita

garuda tak mampu mengepakkan sayapnya sendiri
merah putih tak bisa berkibar sendiri
kitalah
kitalah yang harus mengepakkannya
kitalah yang harus mengibarkannya

yakinlah
bersama kita kan bisa
terbangkan lagi sang garuda
kibarkan kembali sang bendera


kitalah pemuda merdeka

Wednesday, January 2, 2013

Posted by dibalikkacamata |

Inginku ukirkan
Belati di lenganku

Inginku lilitkan
Jerat di leherku

Inginku tebaskan
Parang di jantungku

Inginku tenang

Inginku hilang

Posted by dibalikkacamata |
malam kelabu
tak ber awan
tak ber angin
menyisahkan perih di hati

bintang enggan ku jamah
bulan enggan ku sapa
bayangku pun enggan tersentuhhh
kelabu malam ku iini

gelap ku tatapi malam
dingin kurasakan
melayang jauh
entah kemana
pikiran terbang

meratap
merintih
tak ada tujuan

cahaya bulan
tak mampu menyinariku
banyaknya bintang
tak mampu mengindahkanku

akan kah sebilah pisau mampu menjawab?

dalam relung hanya perih yg tersisa
luka
duka
terombang ambing dalam amarah

hanya karna satu
semua hancur lebur
tiada duga
kau begitu tega